Sekedar Ikut2an

Apakah kalian sudah mengetahui tentang manhaj salaf? waktu aku di pondok, salaf diidentikan dengan orang-orang udik. kan aku dulunya mondok di pondok Modern (katanya), nah klo salaf itu ya pondok2 yang pake sarung mlulu, blajarnya kitab kuning, dan gak mengenal kehidupan modern. Astaghfirullahaladziim.

Ya, dulu aku sempat sekolah di pondok Gontor juga ada acara Usbuu’u-l-Dirasah fi Kutubi-l-Turaats Al-Islamiy atau Fathul Kutub untuk seluruh siswa kelas kelas 5 yang dibuka Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag, Jum’at (30/4) malam, di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Adapun jumlah siswa kelas 5 yang mengikuti acara tersebut mencapai 762 orang. Jumlah ini tidaklah termasuk siswa kelas 5 yang berada di Pondok-pondok Cabang. Untuk mendidik kemandirian, setiap Pondok Cabang mengadakan Fathul Kutub di tempat masing-masing.

Acara yang berlangsung selama enam hari berturut-turut diawali dengan pembekalan materi pokok terlebih dahulu. Menurut Ustadz Heru, ketiga materi pokok tersebut adalah Fiqih, Tauhid dan Hadits. Semuanya disampaikan pada hari kedua setelah pembukaan, Sabtu (1/5) pagi. Materi Fiqih disampaikan oleh Ustadz H. Syarif Abadi, materi Tauhid disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Suharto, S.Ag. dan materi Hadits disampaikan Ustadz Imam Awaluddin, M.A. Pembekalan ini bertujuan agar para santri mengetahui berbagai permasalahan yang menyangkut ketiga bidang ilmu pengetahuan tersebut sebelum mereka membuka kitab-kitab yang ada di hadapan mereka. Sehingga, pada saat Fathul Kutub berlangsung, mereka dapat membahasnya dan menemukan jawaban dari kitab-kitab klasik tersebut.

Fathul Kutub sendiri merupakan sistem belajar kelompok dengan cara menelaah kitab-kitab Fiqih, Tauhid dan Hadits yang dikarang para ulama terdahulu. Hasil telaah ini kemudian didiskusikan bersama-sama di dalam kelompok masing-masing dengan diarahkan seorang ustadz pembimbing dari para wali kelas 5. Adapun jumlah kelompok Fathul Kutub tahun ini mencapai 48 firqoh. Setiap kelompok, Ustadz Heru menerangkan, mendiskusikan permasalahan yang ada di tempat-tempat yang telah ditentukan panitia. Diskusi atau pembahasan ini tidak hanya berlangsung pada pagi hari, akan tetapi dilanjutkan pada malam hari yang seyogyanya digunakan untuk muwajjah (belajar terbimbing bersama wali kelas pada malam hari-red). Bagi siswa kelas 5, waktu muwajjah ini digunakan untuk meneruskan diskusi Fathul Kutub bersama pembimbing masing-masing.

Acara yang menggunakan kurang lebih sekitar 4 ribu kitab ini bertujuan memberikan pengenalan kepada siswa kelas 5 KMI berbagai macam kitab klasik yang dikenal lebih akrab di kalangan pondok salaf dengan sebutan kitab kuning di samping menambah wawasan ilmu keislaman dari kitab-kitab tersebut. Sehingga, para santri dapat mengetahui bagaimana tingkat keilmuan para ulama terdahulu. Selain itu, ada tujuan yang tidak kalah pentingnya dari pelaksanaan Fathul Kutub ini, yaitu mengasah kemampuan bahasa Arab siswa kelas 5 KMI.

Untuk itulah, pada hari terakhir menjelang penutupan acara, Rabu (5/5) pagi, diadakan acara debat terbuka yang membahas masalah kepemimpinan wanita. Beberapa siswa kelas 5 yang ditentukan sebagai peserta debat terbagi ke dalam dua kubu; pro dan kontra. Melalui acara debat ini, kemampuan berbahasa mereka pada waktu berdebat mewakili seluruh siswa kelas 5. Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan evaluasi umum dari Direktur KMI, KH. Masyhudi Subari, MA. Selanjutnya, acara ditutup dengan taushiyah dan pesan-pesan dari Pimpinan Pondok, KH. Hasan Abdullah Sahal.

Namun salaf yang dimaksud di sini adalah manhaj generasi awal Islam; shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

maka, ketika aku untuk pertama kalinya mendengar kata salaf dalam keluargaku, aku tidak begitu respon dengannya. Astagfirullahaladzim.

seiring berjalannya waktu, aku melihat manhaj salaf adalah manhaj yang memang sudah seharusnya kita berjalan di atasnya. maka, aku pun mulai tertarik, dan ingin mengetahui lebih lanjut.

semakin dalam aku menyelami manhaj ini, aku semakin tidak ingin melepaskannya. namun, jika kalian tahu, pertama kalinya aku sekedar ikut-ikutan apa yang diyakini kakakku saja.