Jalan Layang Gebang kabupaten Cirebon

Ini adalah cerita-ku tentang jalan layang Gebang, kabupaten Cirebon.

Perlu kalian ketahui, saya adalah alumni IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2011. Namun saya sebenarnya berasal dari kota Tegal, Jawa Tengah. Karena saya berasal dari luar kota Cirebon, otomatis saya harus mencari tempat kost di Cirebon.

Saya mulai kuliah di IAIN Cirebon pada pertengahan tahun 2006.

Yang menjadi kendala saya dalam mengakses tempat kuliah dari daerah (kota) saya adalah masalah kendaraan umum. Saya sangat benci sekali dengan kendaraan umum khususnya bus. Mungkin karena dulu saya gampang mabok di perjalanan, ditambah trauma oleh pengalaman jelek dalam menumpang bus ketika saya menjalani studi di sebuah pondok pesantren. Ingin rasanya perjalanan Tegal-Cirebon ataupun sebaliknya hanya dilalui sekejap mata saja.

Berikut ini beberapa hal yang membuat saya tidak betah dalam menggunakan kendaraan umum yaitu; pertama, saya tidak bisa sesuka hati berangkat kapan saja. Terkadang saya sudah siap bahkan dari jam 6 pagi, namun harus menunggu kedatangan bus ‘tercinta’ kurang lebih setengah jam lamanya. Subhanallah, benar-benar membuat saya ingin menangis!. Kedua, mungkin karena bus yang saya tumpangi adalah bus kelas ekonomi, jadi tidak nyaman. Namun karena saya masih seorang mahasiswa alias belum berduit, maka saya pun mencari kendaraan dengan tarif yang miring.

Namun demikian, saya seringkali berpikir “jika saya tidak mau bersahabat dengan keadaan, maka seterusnya saya akan merasa sangat tersiksa. Saya tidak boleh seperti ini terus, saya harus berubah!”. Jadilah saya berusaha menikmati masa-masa tidak mengenakan dalam perjuangan (kuliah) ini. Saya berusaha tersenyum, berpikir positif, dan terkadang mengingat-ingat motivasi kawan-kawan seperjuangan; “ayo nis, ayo”. Cara yang ketiga ini terkadang cukup membantu juga.

Kemudian semenjak tahun 2010 di pasar Gebang kabupaten Cirebon yaitu suatu daerah yang biasa dilewati bus yang saya tumpangi, ada proyek pembangunan jalan layang atau yang biasa disebut flyover.

Pasar Gebang adalah pasar tradisional yang berumur sudah cukup lama. Namun yang sangat disayangkan, komunitas pedagang di pasar ini berlaku kurang baik dan kurang disiplin dalam menjalankan aktivitas berdagang. Mereka tidak berdagang di tempat yang telah disediakan. Atau mungkin memang tempatnya sudah tidak mencukupi lagi untuk menampung jumlah pedagang yang semakin banyak?. Akhirnya mereka berdagang di ruas-ruas jalan, sehingga mengganggu perjalanan yang lewat di daerah tersebut, sungguh menjengkelkan sekali.

Oleh karena itulah pemerintah berusaha merealisasikan berdirinya flyover, agar tidak mengganggu pengguna jalan maupun pedagang. Jika saya tidak salah lihat, di papan informasi mengenai proyek tersebut tertulis bahwa lama pengerjaan proyek sekitar satu tahun, terhitung dari awal tahun 2010. Hmm.. cukup lama juga, berarti saya harus bersabar untuk mengalami pertambahan kendala dalam perjalanan selama 1 tahun. Wow!

Perjalanan normal Tegal-Cirebon ataupun sebaliknya biasa memakan waktu kurang lebih 2 jam. Namun mungkin dengan adanya proyek ini, perjalanan bisa membengkak hingga 3 jam! Subhanallah, pusing, dan melelahkan.

Walau bagaimanapun Allah SWT adalah Maha Penyayang. Meskipun seperti yang sudah saya ceritakan bahwa perjalanan yang saya alami sangat tidak mengenakn, namun terkadang saya juga mengalami masa-masa indah.

Kalau mau jujur, sebenarnya tidak hanya penumpang bis saja yang tidak ingin rugi, namun demikian juga halnya para supir dan para awak kendaraan umum. Maka sebagai jalan alternatifnya terkadang kami lewat jalan tol, agar tidak memakan waktu lama. Ada hal negatif juga dalam alternatif yang satu ini; saya tidak suka jika bis yang saya tumpangi meminta uang tambahan Rp 2000 per penumpang. Hu hu, menambah budget saja, jadi membengkak nantinya. Yah, ada fasilitas lebih, maka harus ada biaya lebih juga. Dan saya tidak menyukainya. Perjalanan melewati tol sungguh indah, pemandangan yang kami lihat sejuk di mata, dan tidak ada kata macet, Alhamdulillah.

Di penghujung tahun 2010, saya agak lega karena saya pikir proyek ini hampir selesai. November, Desember, namun jalan layang yang didamba-dambakan oleh banyak orang tidak terlihat juga. Mengapa proyek ini tidak kunjung selesai juga?! ya Rabb, rasanya saya ingin teriak, ingin marah. Mengapa sangat lama sekali? Mengapa perjalanan ini masih terhambat?

Walau demikian, saya lihat pilar-pilar penyangga jalan layang ini beberapa sudah berdiri dengan kokoh. Saya pun tersenyum. Pada akhirnya, saya hanya pasrah kepada Allah SWT, terserah lah nih jalan layang kapan jadinya.

Alhamdulillah di bulan Februari 2011 saya menjalani prosesi wisuda. Kemudian setelah wisuda, saya lumayan cukup lama tinggal di rumah , di kota Tegal. Ketika pada akhirnya saya harus ke kampus lagi untuk suatu keperluan, saya pun menguatkan diri untuk kembali menempuh perjalanan nostalgia, ya apalagi kalau bukan perjalan Tegal-Cirebon. Ha ha

Bus yang saya tumpangi pun mulai memasuki gerbang kabupaten Brebes, kemudian sekitar satu jam masuk ke kabupaten Cirebon. Saya hafal tanda-tanda jika sudah di daerah Gebang. “siap-siap nis”, saya menguatkan diri. Namun MasyaAllah, saya melihat pemandangan yang indah ketika bus hampir memasuki daerah pasar Gebang. Ternyata, Jalan Layang Gebang sudah jadi saudara-saudara. Bagus.., haduh, betapa senangnya hatiku. Beberapa penumpang yang mungkin juga seperti saya yang baru pertama kali melihat jalan layang Gebang, celingukan melongok pemandangan di kanan kiri bagus. Semua orang berdecak kagum. Wah kalo seperti ini sih, sepertinya saya jadi agak suka untuk menempuh perjalanan Tegal-Cirebon ataupun sebaliknya.