Maulid Nabi

Astaghfirullahaladzim, betapa kebid’ahan meraja lela di muka bumi ini. namun yang lebih menyedihkannya lagi, para pelaku bid’ah ini tidak menyadari bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kebid’ahan. Mereka mengira bahwa yang dilakukannya adalah sebuah ibadah. Menyedihkan, dan mengerikan sekali ya?
Tadi sore saya mendengar kajian dari seorang ustadz; satu kebid’ahan yang dilakukan berarti hilangnya satu sunnah nabi. Termasuk di antaranya adalah bid’ah merayakan maulid nabi. Adanya bid’ah maulid nabi akan mengakibatkan hilangnya sunnah dalam mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW.
Hal ini seperti disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc,
“Sesungguhnya pengagungan terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara menta’ati beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, mengerjakan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, menjauhi larangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan pengagungan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perbuatan bid’ah atau khurafat atau maksiat.
Para shahabat Nabi Muhammad radhiyallahu ‘anhum adalah manusia-manusia yang paling mengagungkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari seluruh manusia.
Sebagaimana perkataan ‘Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu kepada orang-orang Quraisy:
أَىْ قَوْمِ ، وَاللَّهِ لَقَدْ وَفَدْتُ عَلَى الْمُلُوكِ ، وَوَفَدْتُ عَلَى قَيْصَرَ وَكِسْرَى وَالنَّجَاشِىِّ وَاللَّهِ إِنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ ، يُعَظِّمُهُ أَصْحَابُهُ مَا يُعَظِّمُ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُحَمَّدًا ، وَاللَّهِ إِنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إِلاَّ وَقَعَتْ فِى كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ ، فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ ، وَإِذَا أَمَرَهُمُ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ ، وَإِذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ ، وَمَا يُحِدُّونَ إِلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا لَهُ …،
Artinya: “Wahai Kaum, demi Allah, aku telah mendatangi para raja, Kaisar Romawi dan Kisra serta An Najasyi, demi Allah tidak pernah aku lihat seorangpun dari raja diagungkan oleh para pengikutnya lebih daripada pengagungan para shahabat Muhammad kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, demi Allah, tidaklah beliau meludah kecuali ludah itu di telapak tangan salah satu di antara mereka (para shahabat), lalu dengan ludah tersebut ia mengusap wajah dan tubuhnya. Dan jika beliau perintahkan mereka maka langsung bergegas mereka kerjakan perintah beliau tersebut. Jika beliau berwudhu-’ mereka hampir-hampir saling membunuh agar bisa berwudhu-’ dari bekas air wudhu-’ beliau. Jika berbicara, mereka merendahkan suara di hadapan beliau. Dan mereka tidak memandang beliau dengan leluasa karena penghormatan kepada beliau”. HR. Bukhari, no. 2731.
Tetapi, dengan pengagungan sedemikian rupa, mereka (para shahabat radhiyallahu ‘anhum) TIDAK MEMPERINGATI HARI KELAHIRAN BELIAU shallallahu ‘alaihi wasallam dan TIDAK BERKUMPUL ATASNYA.
Dan amalan manusia jika berselisihan dengan dalil maka bukanlah sebagai landasan dari sebuah amal shalih, meskipun mereka yang melakukannya jumlahnya banyak, Allah Ta’ala berfirman:
{وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ }

Artinya: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. QS. Al An’am: 116.
Demikianlah seorang muslim selalu memperbarahui ingatannya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan selalu berkaitan dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sepanjang siang dan malam, selama hidupnya dengan cara yang disyari’atkan oleh Allah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak mengingatnya hanya pada hari kelahiran beliau saja.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membutuhkan peringatan yang bid’ah ini, karena Allah Ta’ala sudah mensyari’atkan untuk mengagungkan beliau dan memuliakan beliau, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
{ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ}
Artinya: “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?”. QS. Asy Syarh: 4.

Jadi, tidaklah disebut nama Allah Ta’ala ketika adzan, iqamah atau khuthbah kecuali disebutkan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelahnya dan cukuplah itu sebagai pengagungan dan kecintaan dan pembaharuan untuk selalu mengingatnya dan perintah untuk selalu mengikutinya.
Allah Ta’ala di dalam Al Quran tidak memuji beliau shallalahu ‘alaihi wasallam dengan menyebutkan hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi Allah Ta’ala memuji beliau shallallahu ‘alihi wasallam dengan menyebutkan pengutusan beliau (sebagai Nabi dan Rasul). Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
{لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ} [آل عمران: 164]
Artinya: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri”. QS. Ali Imran: 164.
{هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ}
Artinya: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka”. QS. Al Jumah: 2.

“Sebuah perbuatan bid’ah tidak diterima walau dari siapapun. Baiknya niat tidak bisa menjadikan amalan buruk menjadi amalan shalih, dan keberadaan ia sebagai seorang raja yang alim dan adil tidak menunjukkan akan lepasnya ia dari sebuah kesalahan, artinya ia tidak ma’shum.
Artinya: “Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru di dalam perkara kami ini yang bukan darinya maka ia (amalan tersebut) tertolak”. HR. Bukhari, no. 2697.
«إِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ».

Artinya: “Sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” HR. Ahmad, 4/126 dan Tirmidzi, no. 2676.

Berkata Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah di dalam Syarah Al Arba’in: “Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap bid’ah itu adalah sesat” adalah termasuk dari jawami’ul kalim (perkataan yang sedikit dan luas makna), tidak ada sesuatu apapun yang mengeluarkannya dan ia adalah pondasi yang agung daripada dasar-dasar pokok agama.

Dan sabda beliau ini sama persis dengan sabda beliau yang berbunyi, artinya:
« مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ »
Artinya: “Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru di dalam perkara kami ini yang bukan darinya maka ia (amalan tersebut) tertolak”. HR. Bukhari:2697.

Oleh karenanya, setiap orang yang membuat sesuatu yang baru dan di atas nama kan kepada agama, padahal tidak ada asal hukumnya dari agama Islam yang bisa dijadikan sandaran atasnya, maka hal tersebut adalah sesat dan agama Islam berlepas diri darinya, baik itu di dalam permaslahan akidah (kepercayaan), amalan atau perkataan baik yang zhahir ataupun yang batin. Lihat kitab Jami’ Al Ulum wa Al Hikam, hal:233.

Padahal para sahabat adalah orang-orang yang paling mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk melakukan amal shalih dan mengerjakan kesyukuran, apakah orang yang membuat peringatan maulid yang bid’ah ini lebih mendapat petunjuk dan lebih tinggi rasa syukurnya dari mereka (para shahabat dan para tabi’ain rahimahumullah)? Sungguh tidak akan pernah, sama sekali!”

“Tidak diragukan lagi bahwa kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan kecintaan itu harus lebih besar daripada kecintaan kepada diri sendiri, anak, orangtua dan seluruh manusia.
Sungguh bapakku dan ibuku sebagai jaminan untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi bukan berarti kita membuat bid’ah di dalam perkara kecintaan ini, dengan suatu yang tidak pernah disyari’atkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita.
Akan tetapi kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melazimkan keta’atan dan pengikutan diri kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal yang paling agung dari perealisasian kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dikatakan:
لو كان حبك صادقاً لأطعته إن المحب لمن يحب مطيع
“Jikalau kecintaanmu benar maka sungguh anda akan menta’atinya”
Jadi, kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan untuk menghidupkan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang teguh seerat-eratnya dengannya dan menjauhi hal-hal yang menyelisihinya baik berupa perkataan ataupun perbuatan.
Tidak diragukan lagi bahwa setiap yang menyelisihi sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk dari perbuatan bid’ah yang tercela dan maksiat yang nyata, termasuk di dalamnya berkumpul memperingati maulid beliau shallallahu ‘alaihi wasalam dan yang lainnya dari bentuk-bentuk perbuatan bid’ah.
Niat yang baik tidak menjadikan kita membuat bid’ah di dalam agama Islam ini, karena agama ini dibangun di atas dua pondasi: ikhlash dan mutaba’ah (mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), Allah Ta’ala berfirman:
{بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ}

Artinya: “(Tidak demikian) dan bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat ihsan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. QS. Al Baqarah:112.
Disini, penyerahan diri adalah ikhlash kepada Allah dan perbuatan ihsan adalah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sesuai dengan sunnah.
“Sesungguhnya pembacaan sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencontoh beliau adalah perkara yang diminta dari seorang muslim selalu, sepanjang tahun dan sepanjang umur, sedangkan pengkhususan pembacaan sirah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencontoh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari yang tertentu tanpa ada dalil yang menunjukkan akan pengkhususan hal tersebut maka ia akan menjadi suatu perbuatan bid’ah, “Dan setiap bid’ah adalah sesat”. HR. Ahmad, 4/164 dan Tirmidzi, no. 2676.
Dan hendaklah menyibukkan diri dengan menghidupkan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Dan janganlah tertipu dengan orang yang menyebarkan bid’ah ini dan membelanya. Sesungguhnya orang-orang seperti ini perhatiannya hanyalah menghidupkan perbuatan-perbuatan bid’ah lebih besar daripada menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau mungkin tidak memperhatikan terhadap sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali.
Dan barangsiapa yang golongannya seperti ini maka tidak pantas untuk diikuti dan dijadikan contoh meskipun mereka adalah kebanyakan dari manusia. Sesungguhnya pengikutan hanya kepada orang yang berjalan di atas sunnah dari para ulama Salaf Ash Shalih dan para pengikut mereka meskipun jumlah mereka sedikit.
“Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rosul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang di sana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya…?
Tulisan di atas disadur dari: http://moslemsunnah.wordpress.com/category/bidah/