KEMISKINAN, MASALAH KLASIK YANG BERTAMBAH PELIK

Sekedar ingin flash back, di zaman kepemimpinan khalifah Umar ibn khattab, perekonomian negara Islam sangat stabil, karena sang pemimpin merupakan muslim yang zuhud terhadap segala serba-serbi kenikmatan duniawi. Khalifah Umar sama sekali tidak ingin hidup enak-enakan sementara rakyatnya banyak yang kelaparan. Beliau enggan untuk menerima segala fasilitas negara yang memang diperuntukkan bagi kepala negara, yang sebenarnya sudah menjadi haknya. Beliau tidak pernah mau menggunakan milik negara hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Baginya menjadi khalifah merupakan suatu perkara yang amat berat dan bisa menjadi dosa besar jika tidak dijalankan dengan amanah. Sebenarnya bukan hanya pada masa khalifah Umar ra saja, tetapi setiap negara Islam yang dipimpin oleh pemimpin yang shaleh, maka atas izinNya akan menjadi baldatun thayyibatun yang penuh barakah.

Apa yang menyebabkan di dunia ini banyak orang kaya, tetapi banyak juga orang miskin? Pertanyaan seperti itu muncul otomatis setelah saya melihat keadaan di sekitar saya. Penelitian pribadi tersebut dimulai dari pengamatan saya sendiri; yaitu hal yang sangat kecil sekali. Saya suka memperhatikan fenomena di depan kampus saya. Sepertinya bertambah banyak saja pedagang-pedagang kecil yang -jika kita mau menyelidiki lebih lanjut- tidak memberikan konstribusi yang begitu berarti bagi perekonomian negara. Apakah semua ini dikarenakan terlalu sempitnya lapangan kerja sampai-sampai tidak ada pilihan lain? Apakah para pedagang itu memang benar-benar mendapat laba dari barang dagangan yang dijualnya? atau mungkin hanya cukup balik modal saja? Atau bahkan pendapatan yang mereka dapat kan per harinya hanya cukup untuk sekedar mengganjal perut?

Manusia, pasti akan memperhatikan kebutuhan hidupnya yang paling dan sangat mendasar, yaitu kebutuhan perut. Seseorang yang tidak mempunyai penghasilan sekalipun, tidak mungkin pura-pura tidak merasa lapar, misalnya. Walau tidak ada sedikit pun harta di tangannya, dia tetap akan berusaha untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan, bisa dengan berhutang misalnya. Masih mending jika dia melakukan hal itu (berhutang). Namun bagaimana jika gara-gara masalah perut menyebabkan masalah baru? Yaitu kasus kriminal. Mereka yang sudah tidak mempunyai rasa malu –dan tidak sadar bahwa Tuhan selalu mengawasinya– akan menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsunya. Ada yang mengambil hak orang lain,

Awal-awal negara Indonesia baru menyadari bahwa ternyata krisis moneter telah menyerang, maka perusahaan-perusahaan mulai berusaha meminimalisasikan biaya produksi sebisa mungkin. Salah satu caranya dengan mengurangi jumlah tenaga kerja. Maka muncullah kembali masalah baru, yaitu pengangguran. status sosial baru yang merupakan momok bagi para pegawai dan pekerja swasta, yaitu menjadi korban PHK. Korban-korban PHK (apalagi jika sudah berkeluarga) pasti pusing untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga mereka, karena mereka tidak mempunyai uang sama sekali.

Bahkan sebuah pikiran picik pernah terlintas di benak saya; mengapa seseorang berani menikah jika dari segi financial belum cukup kuat (siap)? Apakah ingin menambah deretan generasi yang hanya akan menjadi beban tanggungan orang lain? Jangan terburu-buru menikah, pikirkan dulu apakah sudah mempunyai mata pencaharian yang mana nanti hasilnya bisa untuk menafkahi anak isteri? (bagi kaum adam). Sehingga, kita bisa memulai untuk membangun sebuah bangsa yang kuat, baik dari sisi financial ataupun yang lainnya.

Tetapi sebenarnya di dalam Al Quran Allah SWT telah berfirman akan menjamin rizqi bagi seorang muslim shaleh yang memang ingin menyempurnakan separuh dien-Nya. Namun tentunya kita harus benar-benar memahami apa yang dimaksudkan Tuhan dalam ayat tersebut

Bagaimana masyarakat Indonesia tidak menjadi masyarakat miskin yang bertambah miskin? Penyaluran harta di negara ini tidak merata. Yang kaya tetap kaya, tetapi kaum miskin akan semakin masuk ke dalam lumpur penderitaan. Di indonesia, penghasilan penduduknya minim, tetapi harga barang-barang (termasuk kebutuhan pokok) mahal. Dengan uang sedikit itu hanya mendapat barang yang sedikit pula. Di mesir, orang miskin saja bisa makan daging domba. Karena itu dalam agama Islam ada zakat. Zakat sendiri bermacam-macam, ada zakat fitrah, bahkan zakat maal (harta) pun ada. Salah satu dari sekian banyak tujuan zakat adalah memberi rasa bahagia kepada mereka yang kurang beruntung. Begitu pula dengan zakat maal, mereka yang mempunyai harta berlebih diperintahkan untuk menafkahkan kelebihannya itu kepada mereka yang kurang mampu.

Atau apakah mungkin masalah kaya-miskin memang tidak perlu dipermasalahkan? Apakah di dunia harus kaya semua? Untuk itulah ada orang miskin. Biar lengkap. Masalah yang rumit ini telah menjadi pekerjaan rumah bagi sarjana ekonomi untuk setidaknya bisa meningkatkan UMR (Upah Minimum Masyarakat) yang tinggal di sekitar mereka. Yang menjadi masalah ialah orang yang dibilang miskin di Indonesia, hidup susahnya itu bukan karena susah tidak mempunyai mobil, tetapi untuk makan layak pun susah.

Zaman sekarang jika ingin bertemu dengan seorang pemimpin yang mau hidup susah sepertinya bagaikan mencari sebatang jarum di tumpukan jerami. Mungkin jika kita mau menaifkan diri kita sendiri, setiap manusia pun sepertinya pemikirannya tidak begitu jauh berbeda dengan mereka yang selama ini kita salahkan. Kita susah-susah, menjalani pendidikan, tujuannya untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan akhirnya hidup enak. Punya mobil, kebutuhan keluarga juga tercukupi. Saya akan mengacungkan empat jempol jika ada orang yang berlimpahan harta tetapi mau hidup pas-pasan, berkesusahan, dan uang dia yang berlimpah disedekahkannya di jalan Allah.

Saran saya, jangan terburu-buru menikah kecuali bisa menyiapkan generasi yang mandiri. Namun, Allah pun telah berfirman jangan takut menikah karena Dia telah menjamin rizqi setiap jiwa. Agama islam mengharuskan umatnya menjadi umat yang kuat, bukan umat yang lemah. Yang mandiri dan tidak menadahkan tangan meminta belas kasihan orang lain. Pernah diriwayatkan pada zaman nabi datanglah ke hadapan beliau seorang yang meminta-minta namun nabi menyuruhnya untuk menjual suatu barang yang dia miliki. Setelah berbentuk uang orang tersebut diperintahkan untuk membeli kapak. Dengan kapak itu akhirnya dia menjadi pencari kayu bakar, tidak meminta-minta lagi. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali kaum tersebut berusaha untuk merubahnya. Yang namanya tawakkal itu setelah berusaha, bukannya belum berusaha apa pun tetapi hanya diam berharap pertolongan akan langsung datang dari langit.

Karena adanya moral hazardlah yang menyebabkan warga yang sudah terpuruk bertambah terpuruk saja. Penyaluran raskin (beras miskin) misalnya. Itu merupakan program pemerintah yang baik, tetapi tetap saja ada penyimpangan pihak-pihak tertentu. Ada tangan-tangan yang menggondol kilo, bahkan kwintal demi kwintal dari beras-bersa tersebut.

Sebenarnya inisiatif yang bagus untuk membuka lapangan kerja sendiri. Jadi tidak bergantung ke orang lain untuk membukakan lapangan kerja. Tetapi mungkin rasanya nggak enak untuk berjalan-jalan di trotoar yang penuh sesak oleh pedagang-pedagang yang tiba-tiba saja ada untuk mendirikan warung-warung mereka. Dan merupakan bukan impian yang terlalu muluk sepertinya jika saya menginginkan sepanjang trotoar yang bersih dan damai. Mungkin gara-gara waktu kecil saya pernah membaca cerpen yang ada teksnya ”aku berjalan sepanjang trotoar melihat-lihat ke etalasi toko”.

Pemda (pemerintah daerah) dituntut untuk menyediakan tempat bagi para pedagang, jadi para pedagang tidak kebingungan mncari tempat bagi mereka untuk berdagang. Bahakan kalau perlu (kedengaarannya terlalu sadis )jika samapi ada yatng melewati batas dan sampai menyentuh trotoar, dikenakan sanksi yang berti. Trotoar itu memang diperuntukkan bagi pejalan kaki, bukan untuk berdagang. Atau kalau perlu beberahpa pedagang bekerja sama untuk membuka satu usaha, ngirit tempat, agar tidak berceceran.

Cita-cita saya ingin mengadakan kembali uang satu sen rupiah. Ingin..sekali. jika tidak, maka diusahakan 1 US $ = Rp. 450. itu merupakan satu tindakan yang sangat besar sekali. Indonesia sudah jauh tertinggal dengan negara berkembang lainnya di asia tenggara. Negara-negara yang pada mulanya satu level dengan indonesia sudah mulai membenahi diri dan kini pun tingkat perekonomiannya menjadi beberapa tingkat di atas indonesia. Indonesia merupakan negara yang kaya, (sumber daya alam) tetapi mengapa tingkat perekonomiannya tidak mengalami kenaikan yang signifikan? Apakah karena tidak bisa mengolahnya? Namun sebenarnya banyak manusia yang pintar di indonesia. Seperti halnya cina, negara yang mempunyai wilayah yang lumayan luas, PNB nya pun besar, dengan jumlah penduduk yang banyak pula, namun pendapatan perkapita nya masih tergolong kurang.

Namun, jika posisi seseorang sedang di atas, islam pun mempunyai anjuran juga. Yaitu, agar ia bersedekah. Sama sekali tidak ada ruginya seseorang mengeluarkan beberapa gulir uang untuk membantu saudaranya yang sedang kekurangan. Karena kehidupan yang abadi bukan di dunia. Kita masih akan mengalami fase kehidupan yang selanjutnya, yaitu kehidupan akhirat. Karena shodaqoh merupakan anjuran Allah swt maka bagi yang mengerjakannya akan mendapatkan pahala yang mana dapat memberatkan tabungan amalan baik kelak. Insya Allah.

Sebuah pepatah klasik yang hampir semua orang mengetahuinya; kehidupan itu seperti roda yang berputar, terkadang di atas dan terkadang pula di bawah. Maka, bagi mereka yang sedang diberi limpahan rizqi hendaklah jangan lupa kepada orang-orang sekitarnya yang sedang kekurangan. Jikalau suatu saat nanti terjadi hal yang paling buruk, maka insya Allah dia mempunyai rekan-rekan yang tidak akan melupakannya karena pernah ditolong olehnya.

Namanya berdagang itu jika mau memakai metode yang rumit, harus ada manajemennya. Berdagang harus mempunyai bakat khusus, ulet, handal dalam bersaing, dsb. Jika memang serius ingin menekuni suatu bidang usaha, maka memang harus dipikir matang-matang. Prospek ke depannya, pesaing-pesaing yang akan menjadi ancaman dsb.

Tidak apa-apa sih miskin jika memang hidupnya sudah didekasikan untuk Tuhan. Dia akan merasa cukup. Menyadur sedikit dari pembelajaran filsafat, ada tokoh yang mengatakan bahwa orang yang paling bahagia di dunia ini adalah yang paling sedikit keinginannya. Karena ia tidak ingin macam-macam, maka dia pun merasa bahwa segala hal yang dibutuhkannya sudah terpenuhi, bahkan lebih dari cukup.

Memang sudah seharusnya kita membuat perubahan-perubahan dalam hidup kita. Bergeraklah jika memang ingin berubah. Jika berdiam diri saja maka tidak akan ada mantera yang tiba-tiba saja bisa menyihir dan merubah diri kita menjadi seseorang yang kita inginkan.

Apakah pekerjaan menjadi PNS bisa menjamin kemakmuran hidup seseorang? Tapi saya pribadi melihat banyak orang sukses bukan sebagai PNS, namun di bidang lainnya. Menjadi pekerja swasta sekalinya sukses maka sukses, namun jika pas-pasan pun demikian pula. Kadang malah berpikir apakah PNS itu makan gaji buta? (beberapa orang). Banyak di instansi-instansi yang bukan bidang, bukan fak, dan bukan keahliannya. Bahkan ada yang lebih parah lagi. Mereka hanya berangkat dari rumah, ke kantor, dan duduk-duduk. Kemudian pada tanggal satu di awal bulan mereka pun menerima gaji dari pemerintah.

Kemudian kita tilik mengenai para pekerja tingkat atas, (pialang saham). Bagaimana pandangan ulama islam mengenai hal ini? Masih terdapat ikhtilaf, karena sesungguhnya lapangan pekerjaan itu harus real, lain halnya saham, banyak sponsor yang mengatakan biar uang anda yang bekerja. Kembali pada permasalahan utama, bagaimana caranya membangkitkan perekonomian indonesia? Bagaimana caranya mengentaskan masyarakat yang masih miskin?

Sebenarnya bisa saja, segala sesuatunya dimulai dari diri kita masing-masing. Mulailah dari hal yang terkecil lebih dahulu, hal-hal yang simpel saja. Dan perlu dicatat bagi orang miskin jangan kaget bila mendadak dapat uang banyak. Anda ingin tahu solusi – atau setidaknya suatu cara untuk mencegah kebangkrutan yang mungkin akan menghadang hidup anda di masa yang akan datang? Jawabannya ialah menabung. Menabung untuk masa depan. Menabung agar kita mempunyai uang cadangan. Dan satu lagi pemecahan masalah yang ingin saya ajukan, yaitu hendaknya bapak-bapak pemimpin negara ini memprioritaskan untuk membayar hutang negara dulu, bukannya anggaran belanja dipergunakan untuk hal-hal lain yang tidak penting jangan dilaksanakan. Juga, mulai memperbanyak eksport. Sungai-sungai yang mengalir di tengah kota pun bisa dijadikan ladang penghasil uang. Kita ubah saja sungai-sungai tersebut menjadi wisata air yang menarik para turis. Sungai itu dibersihkan, dibuat indah sedemikian rupa. Dan bagi unemployment (yang tidak mempunyai pekerjaan) disalurkan menjadi pembersih-permbersih sampah. Begitu pula tidak boleh membuang sampah sembarangan, hukumannya juga membersihkan sampah. Sangat mengagetkan selama ini umat pusing bagaimana cara terjitu dalam menanggulangi kemiskinan. Karena sesungguhnya cara tersebut sudah secara gamblang disebutkan di dalam al Qur’an. Bekerja lah, karena itu memang wajib bagi setiap umat muslim apalagi bagi mereka yang sudah mempunyai tanggungan untuk dinafkahi. Bahkan meminta-meminta merupakan amalan yang dianggap hina. Dikisahkan di zaman nabi Muhammad saw pernah ada seorang yang meminta-minta maka rasul pun memberikan solusi sebuah pekerjaan kepadanya. Alangkah mulianya seorang yang mandiri, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Ada juga firman Allah swt yang maknanya bertebaranlah wahai manusia di bumi Allah untuk mencari rizqi. Ini mengisyaratkannya pula wajibnya bekerja bagi setiap orang. Namun, perlu dicatat jangan sampai menjadi manusia yang workaholic. Sampai-sampai seluruh pikiran, hati, hanya tertuju pada pekerjaan. Bahkan bisa dikatakan dia mendewakan pekerjaan.