Tarung Derajat

A. Latar Belakang Munculnya beladiri Tarung Derajat

Tarung Derajat lahir dari pengalaman hidup yang pernah dilakoni oleh pemuda asli Bandung yang bernama Ahmad Drajat. Sekitar tahun 1968 hingga tahun 1970-an, dia sering terlibat aksi kekerasan fisik, penganiayaan, dan perkelahian (AD/ART Kodrat: 1994). Terlibatnya ia dalam berbagai perkelahian tersebut bukan karena keingingan dari dirinya sendiri, namun karena terpaksa untuk melawan preman-preman yang memang kerap kali mengganggunya. Ia selalu menang ketika berkelahi, padahal dilihat dari postur tubuhnya, tidak meyakinkan untuk memperoleh kemenangan.

Kemenangan yang diperolehnya membuat banyak preman tidak suka dengannya, dan mereka berencana untuk menghabisinya. Akhirnya mereka berhasil merealisasikan rencana tersebut, yaitu berhasil mengeroyoknya. Ahmad Drajat kewalahan menghadapi preman yang sedemikian banyaknya. Sehingga ia pun babak belur menjadi bulan-bulanan para preman tersebut.

Semenjak peristiwa pahit itu, dia mulai merenung, berpikir bagaimana cara untuk menghentikan aksi jahat para preman tersebut. Satu pertanyaan yang selalu muncul dalam benaknya adalah, “jenis beladiri apa yang bisa mengangkat kehormatan saya supaya tidak dihina dan disakiti orang?”.

Selain itu, ia juga membuat siasat, mengasah kemampuan, dan mempelajari berbagai jenis beladiri. Dia selalu berlatih agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Setelah merasa matang dengan ilmu barunya, ia pun ingin segera menerapkannya kepada orang-orang yang mencoba memeras atau membuat masalah kepadanya. Siapa lagi kalau bukan para brandal tersebut.

Ia pun bertarung dengan mereka, dan sekali lagi kemenangan berpihak kepadanya. Berita kemenangan tersebut tersiar kemana-mana, dan membuat orang-orang berdecak kagum. Semenjak saat itu-lah Ahmad Drajat dijuluki Aa Boxer.

Masyarakat juga berkeinginan untuk menimba ilmu beladiri darinya. Mereka selalu mendesak Aa agar mengajarkan ilmu yang ia miliki. Namun desakan ini membuat Aa Boxer bingung, tak tahu apa yang harus diajarkan, karena ia merasa tidak memiliki apa-apa. Namun demikian, ia pun melayani permintaan mereka; mengajarkan apa yang tidak disadarinya telah dimilikinya. Metode yang diterapkannya adalah metode serang bebas. Yaitu, ia membebaskan/menyuruh orang-orang yang belajar kepadanya menyerangnya ramai-ramai. Kemudian ia membalas mereka. Begitulah praktek yang diajarkannya.

Dari pengalaman praktek mengajar tersebut, ia menerima berbagai masukan dari teman-teman agar menata dan mensistematiskan jurus-jurus yang telah diciptakannya agar menemukan bentuk-bentuk gerakan baku untuk dijadikan fungsi beladiri yang dinamis, praktis dan efektif. Di samping itu juga ia juga disarankan agar mensinergiskan unsur filosofis, kultural, kesehatan, olahraga, dan sosiologis.

Karena ia mengajari mereka, Aa Boxer pun mendapat julukan baru, yaitu “sang guru”. Seluruh anggota Tarung Derajat juga memanggil Ahmad Drajat dengan panggilan sang guru, karena ia-lah guru yang mengenalkan dan mengajarkan gerakan Tarung Derajat kepada masyarakat.

Tahun demi tahun, semakin banyak masyarakat yang ingin belajar Tarung Derajat. Maka, pada tanggal 18 Juli 1972, Sang Guru memproklamasikan berdirinya aliran beladiri AA-BOXER. Perguruan pusat tersebut bernama Perguruan Kawah Tarung Drajat. Pada perguruan pusat inilah Tarung Drajat dikembangkan, baik dari segi ilmu maupun dari segi lainnya.

Dalam setiap organisasi, pasti ada pasang surutnya. Demikian pula yang dialami klub beladiri AA-BOXER. Lima tahun sejak perguruan berdiri (1972 sampai 1978), organisasi AA-BOXER agak mengalami stagnasi. Menyadari hal itu, sang guru pun mengadakan penelitian dan pengembangan. Ia menata ulang dasar teknik dan meramu seni gerak dari jurus Boxer yang ada.

Dia mendapat ilham dari sebuah buku tentang ilmu hayat. Di dalam buku tersebut, disebutkan mengenai fungsi dan anatomi tubuh manusia mana saja yang bisa dilatih agar menjadi untuk memukul dan menendang, serta bagian mana yang lemah. Dari situ pula dia dapat menemukan teknik jurus yang dapat mengoptimalkan kekuatan pukulan. Ia pun menggabungkan lima unsur yakni: kekuatan, kecepatan, ketepatan, keberanian, dan keuletan. Lima unsur ini juga yang kelak menjadi ciri khas utama Boxer (AD/ART KODRAT, 1994).

Kemudian pada tahun 1983 sang guru pun mematenkan lambang Boxer. Selain itu, ia juga menerapkan sebuah motto yaitu: “Aku ramah bukan berarti takut, aku tunduk bukan berarti takluk” Pesan ini selalu ditekankan kepada anak didik yang menekuni Tarung Derajat yang diformulasikan pada setiap latihan dilakukan. Motto lainnya yaitu “Kesatria Pejuang dan Pejuang Kesatria”. Semua kemampuan (otot, otak, dan nurani) diaplikasikan dalam urutan materi latihan yang sudah disusun berdasarkan “kurikulum” formalitas beladiri Tarung Derajat dan materi latihan disesuaikan dengan tingkatan/Kurata (kuat, berani, dan tangkas) –SK Sang Guru Tarung Derajat no. 16/KEP GUTAMA/STD/XII/1991. Perkembangan Tarung Derajat dari tahun 1981 s/d 1983 agak mengalami stagnasi. Pada kurun waktu ini, peminat Tarung Derajat berkurang, padahal kurikulum dan materi latihan sudah disesuaikan dengan tuntutan tingkatan. Dari tantangan tersebut Sang Guru lebih banyak belajar lagi. Ilmu-ilmu beladiri lain, ia jadikan sebagai bahan bandingan, kemudian diuji, sebelum akhirnya olahraga Tarung Derajat dijadikan olahraga prestasi dan dipertandingkan.

B. Tarung Derajat Menuju Olahraga Prestasi

Selain kurun waktu tersebut, ternyata untuk selanjutnya yaitu tahun 1984 sampai 1988, jumlah peminat dan pencita Tarung Derajat juga belum mengalami peningkatan. Ahmad Drajat pun banyak mendapat tantangan dan juga kritikan dari masyarakat. Di antara mereka ada yang berkata “kalau mau jadi jagoan, jangan cuma di jalanan, cobalah buat kejuaraan/pertandingan yang bisa melihat kemampuan beladiri Boxer pada suatu arena (matras/reng)”.

Dari kritikan inilah Ahmad Drajat mencoba menata struktur organisasi dari perkumpulan Satuan Latihan (Satlat) yang ada di Kota Bandung dan daerah sekitarnya. Tekad pertamanya adalah mewujudkan agar Tarung Derajat bisa dipertandingkan dengan cabang beladiri lain.

Membentuk olahraga prestasi yang dibuktikan melalui pertandingan, tidak semudah yang dibayangkan oleh masyarakat pada umumnya. Untuk mewujudkannya haruslah ada kaidah-kaidah, ketentuan-ketentuan, dan peraturan yang baku untuk diterapkan dalam sebuah parameter keolahragaan. Oleh karena itu, maka dirancanglah teknik-teknik khas Tarung Derajat untuk dipertandingkan, seperti:

1. Merancang sarana untuk pertandingan; arena tarung, pakaian tanding, dan alat-alat yang digunakan oleh tenaga pelaksana.

2. Mencetak para wasit-juri yang akan menjalankan ketentuan-ketentuan dan peraturan pertandingan.

3. Mengkondisikan agar pertandingan ramai disaksikan oleh penonton.

Akhirnya pada tahun 1988 diadakanlah kejuaraan Tarung Derajat yang bernama “Tarung Bebas AA-BOXER CUP” untuk pertama kalinya di Kota Bandung. Semenjak itulah beladiri ini semakin dikenal oleh masyarakat.

Kejuaraan pertama ini menerapkan beberapa faktor teknis yang berkembang secara alamiah. Yaitu “menyerang untuk menang”. Perolehan nilai atau poin untuk pemenang dalam pertarungan ini dinilai dengan seberapa bisa petarung  mengenai lawannya atau dengan kata lain penilaian berdasarkan pada perkenaan langsung (full body contact).

Sementara, dasar penerapan teknik bertanding sendiri menerapkan lima unsur beladiri, yaitu memukul, menendang, menangkis, membanting dan mengelak. Sedangkan pembentukan mental yang membaja petarung menerapkan lima kunci unsur kemampuan, yaitu kekuatan, kecepatan, ketepatan, keberanian, dan keuletan (Sang Guru dalam GO, 1996).

Sebelum petarung diterjunkan ke arena kejuaraan, mereka dibekali dengan kualitas teknik yang sama dan memiliki sertifikasi petarung minimal tingkatan Kurata IV. Kemudian mengenai kualifikasi berat badan, dibedakan menjadi 2 macam, yaitu kelas ringan (49 kg ke bawah) sampai kelas bebas (65 kg ke atas). Sistem pengenaan langsung juga merupakan ciri khas utama olahraga Tarung Derajat.

Sukses pelaksaan kejuaraan yang pertama, kemudian di tahun 1991 digelar kejuaraan Tarung Bebas AA-BOXER Cup II. Kemudian selanjutnya berturut-turut sampai tahun 1996 Tarung Derajat sudah mengadakan kejuaraan Piala AA-BOXER lima kali. Harapan Perguruan Tarung Derajat untuk masuk menjadi anggota KONI Pusat hampir terbuka lebar, karena Tarung Derajat sudah memenuhi persyaratan yang ada, yaitu sudah lima kali mengadakan kejuaran yang berskala Nasional. Namun demikian, untuk memperoleh pengakuan secara resmi masih perlu menata teknis dan cirikhas yang dimiliki Tarung Derajat.

Tekad yang kuat untuk menjalankan organisasi mulai terwadahi dari terbentuknya Kepengurusan Pusat Tarung Derajat Periode 1991-1994 di bawah kepemimpinan Ketua Umum Brigjend. TNI. HMA. Sampoerna. Waktu pertama kali mengadakan musyawarah Nasional keanggotan daerah pada tahun 1992,  Tarung Derajat baru mencapai 10 wilayah di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, maka organisasi Tarung Derajat pun pada tahun 1994 sudah memasyarakat sampai pada 15 propinsi di Indonesia.

Daerah yang dimaksud adalah: Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY Yogyakarta, Bali, NTB, Lampung, Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat (data ST, No. Istimewa/PB/VI/1994).

Kelayakan perkembangan bidang organisasi yang diminta oleh KONI Pusat sudah adalah keharusan keeksisan organisasi yang mencapai 10 daerah. Malah, Tarung Derajat waktu itu sudah melebihi target yang diminta, yaitu sudah mencapai 15 daerah. Namun demikian, dari segi bidang pengembangan dan penelitian teknis masih banyak yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi cabang olahraga keanggotaan KONI Pusat.

Indra Jati Sidi, yang waktu itu menjadi Litbang KONI Pusat menyebutkan “Kalau boxer sudah masuk KONI Pusat dan dipertandingkan di PON atau tempat yang lebih tinggi lagi, perlu dipertimbangkan penggunaan alat pelindung (body protector). Sementara selama ini, body protector tidak ada dalam tradisi Boxer (Tabloit GO, 1996). Kemudian masalah nama cabang olahraga “Boxer” yang kesannya diadopsi dari cabang Boxing/tinju, kick boxing ala Amerika dan Thai-Boxing ala Thailand.”

Menanggapi hal yang demikian, maka Sang Guru, sebagai pemimpin Perguruan Tarung Derajat, masih bertahan dengan tradisi dan ciri khas yang ada, yaitu tetap tidak menggunakan alat pelindung. Ia mengatakan, “kalau pakai alat pelindung tubuh, boxer akan kehilangan ciri khasnya. Sepanjang sejarah boxer, belum ada petarung yang cacat tubuh, apalagi sampai meninggal karena adu pukul dan tendangan. Soal tetesan darah atau patah tangan itu biasa”.

Dengan demikian, Tarung Derajat secara teknis masih terkendala untuk memenuhi syarat-syarat yang diminta KONI Pusat. Namun Sang Guru waktu itu, masih punya alternatif, yaitu: (1) tetap mempertahankan ciri khas Boxer, yaitu pertarungan bebas tanpa pembedaan kelas dan tanpa alat pelindung khusus untuk nomor tradisional; (2) khusus untuk konsumsi KONI atau PON kelak, Boxer memakai alat pelindung badan/wajah (Bola, Agustus 1996). Sedangkan mengenai nama organisasi, Tarung Derajat tidak berkeberatan untuk mengganti nama. Dengan demikian, nama “Boxer” pun berubah menjadi Keluarga Olaharaga Beladiri Tarung Derajat yang disingkat KODRAT.

Untuk meluluskan persyaratan resmi jadi anggota KONI Pusat, maka bidang pertandingan dan bidang teknik PB KODRAT bersama Sang Guru  dan anggota Raparnas pada tanggal 9 Agustus 1996 mencari solusi yang terbaik, demi tercapainya cita-cita agar Tarung Derajat diakui dan disejajarkan dengan cabang olahraga lainnya di Indonesia maupun di luar Negeri.

Namun kemudian pada akhirnya Tarung Derajat akhirnya memakai pelindung (Body Protector) ketika bertarung. Karena, syarat yang satu ini oleh KONI Pusat tidak boleh diganggu gugat. Dengan demikian, tepat pada tanggal 6 Januari 1997, KONI Pusat pun menerima Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat (PB KODRAT) sebagai anggota Biasa KONI Pusat, nomor: 06/RA/1997.

C. Eksibisi Pekan Olahraga Nasional (PON) XV-2000

Setelah Tarung Derajat resmi diterima KONI Pusat sebagai anggota ke-53, maka secara organisasi, pembenahan semua bidang harus terus ditingkatkan. Untuk konsolidasi organisasi, maka pada tanggal 12-13 April 1997 untuk pertama kalinya, diadakanlah Musyawarah Nasional Ke I KODRAT. Seiring dengan kegiatan ini, juga dilaksanakan Pelatihan Pelatih dan wasit-juri Nasional yang bertujuan untuk penyetaraan teknik guna mengantisipasi kekurangan pelatih dan menambah jumlah wasit-juri di seluruh daerah di Indonesia. Dari kegiatan munas tersebut, melahirkan berbagai konsep untuk pengembangan Tarung Derajat termasuk merancang program uji-coba kejurnas I yang bentuknya sudah mendekati pelaksanan Multi Evan seperti PON yang sudah bisa mengakomodir rekomondasi dan petunjuk KONI Pusat terutama menerapkan alat pelindung pada bagian yang vital untuk keselamatan petarung secara ilmu kesehatan olahraga (sport medicine).

Tepat pada tanggal 5-6 Juli 1998, diadakanlah Kejurnas I Tarung Derajat di Kota Bandung. Banyak memang perubahan yang diterapkan secara teknis maupun non-teknis. Secara teknis misalnya, nomor/kelas yang dipertandingkan sekarang sebanyak tujuh kelas, padahal sebelumnya hanya lima kelas. Sedangkan perubahan non-teknis misalnya, dari setiap daerah hanya boleh mengikut sertakan satu petarung untuk satu kelas pertandingan yang mana sebelumnya setiap daerah boleh mengikut sertakan atletnya lebih dari satu kelas.

Perbedaan yang diterapkan pada kejurnas pertama, menampakan perkembangan pembinaan olahraga prestasi berkembang. Sebelum resmi menjadi anggota KONI Pusat, pembinaan olahraga Tarung Derajat terkesan hanya berkembang di Kota Bandung-Jawa Barat saja. Jadi menerapkan distribusi, prinsip hak sama, maka pada kejurnas I prestasi Cabang Olahraga Tarung Derajat sudah hampir merata di setiap daerah. Dalam Kejurnas I, Tarung Derajat berhasil meraih tujuh medali emas yang diperebutkan Jawa Barat meraih (4 emas, 1 perunggu), Sumbar (2 emas, 2 perak, 1 perunggu), dan NTB (1 emas).

Berdasarkan hasil evaluasi Kejurnas I yang dikemukakan oleh Ketua umum PB KODRAT periode 1997-2000 yaitu Letjen TNI (Purn) Serya Subrata (PR, 1998, menyebutkan hasil Musyawarah kerja Nasional dan kejurnas I tarung bebas telah menghasilkan berbagai tugas yang menuntut penanganan baik dalam pembinaan organisasi maupun pembinaan prestasi. Dengan demikian, berdasarkan kenyataan itu pula KONI Pusat memutuskan Tarung Derajat diikutsertakan pada PON XV-2000 Surabaya Jawa Timur sebagai cabang olahraga Eksibisi.

Pertandingan PON XV-2000 Surabaya adalah akumulasi dari semua perbaikan yang dilakukan dari semua bidang yang ada pada PB KODRAT. Nomor/kelas yang diperebutkan pada PON XV yakni 9 kelas dengan 36 medali (9 emas, 9 perak, 18 perunggu). PON XV juga  tercatat sebagai pertandingan yang sukses penyelenggaraannya. Selain itu, dalam  PON XV Tarung Derajat juga dinilai berdisiplin tinggi. Hal itulah yang menjadikan Tarung Derajat dapat berkembang dan menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia.

A.     

B.     

C.     

D.    Resmi Mengikuti Kejuaraan Multi Event PON XVI-2004 Palembang

Melalui masa yang panjang dan keterujian, Tarung Derajat yang menempatkan dirinya menjadi yang terbaik untuk membangun bangsa dalam dunia olahraga. Maka akhirnya Tarung Derajat tercatat dalam sejarah olahraga beladiri di Indonesia menjadi cabang resmi olahraga prestasi KONI Pusat yang pertama resmi dipertandingkan pada multi event PON XVI-2004 Palembang. Sekarang Tarung Derajat boleh bangga dengan perjuangannya. Namun usaha itu belum lengkap, karena yang mengenal keberadaan Tarung Drajat belum mencakup seluruh belahan dunia. Semboyan untuk membakar semangat Tarung Drajat agar lebih maju mendunia adalah “sekali Tarung Drajat eksis diakui KONI Pusat, selamanya tetap eksis ”.

E. Penutup

Dengan demikian, lahirnya ilmu beladiri yang bernama “Tarung Derajat” sebenarnya bersumber, dicari dan digali dari alam dengan segala aspek kehidupannya, kemudian diangkat ke permukaan sebagai hasil suatu pengalaman dan renungan hidup Sang Guru (Ahmad Dradjat).

Hasil pengalaman tersebut kemudian dicetak melalui perjuangan yang panjang, usaha dengan tekad yang keras, penganalisaan yang tajam, realistis untuk dipahami, dinamis dalam pergerakan, praktis dilaksanakan dan evektif untuk digunakan. Makna yang tercantum dalam pribadi mandiri BOXER dimanipestasikan dalam setiap insan masyarakat yang mengikuti kegiatan latihan Tarung Derajat. Merupakan keharusan dan perlu disadari bahwa Tarung Derajat adalah wadah menampung minat, menyalurkan bakat dan hobi masyarakat. Wadah itu dalam rangka membentuk watak dan karakter pribadi yang mencerminkan manusia yang memiliki: kejujuran, kesetiaan, keberanian moral, budi pekerti, kemandirian, kepribadian, patriotisme, mental baja, rendah hati, jiwa besar, sabar, pemikiran yang positif, dan tanggung-jawab (AD/ART Kodrat: 1994).

Selain itu, bela diri alamiah “Tarung Derajat murni hanya mengolah fisik saja”. Hal itu seperti yang ditegaskan Ahmad Drajat. Diakuinya, tidak ada unsur mistik yang digunakan untuk menambah kekuatan. Materi yang diberikan dalam beladiri ini hanyalah berlatih fisik secara rutin dengan suatu teknik yang sudah diramu dan disesuaikan dengan teknik beladiri ciptaannya, dengan tidak bertujuan untuk membentuk badan seperti atlet binaraga.

Atas dasar penilaian kemampuan petarung yang memiliki indikasi kemampuan yang sama secara kualitas teknik, maka tidak ada dikenal istilah petarung unggulan. Semua petarung dianggap sama, tidak dipersoalkan ia dari tingkatan kurata IV (sabuk biru), kurata VI (sabuk merah), ataupun tingkatan Zat.

Atas dasar itulah, penempatan lawan tanding ditentukan secara undian (acak), mereka mengenal lawan tanding hanya beberapa saat menjelang pertandingan akan dimulai. Pengalaman dan pengembangan kemajuan telah banyak menunjukkan, bahwa petarung berperingkat kurata IV atau V menaklukan petarung tingkat Zat. Untuk itu, keterujian petarung tergantung kematangan menerima materi latihan dari pelatih dan pengalaman seringnya mengikuti kejuaraan lokal dengan mitra tanding sebelum berlaga pada kejuaraan ini.

Berlatih fisik untuk beladiri berarti juga berlatih napas, dan ini terjadi secara alamiah, tidak ada latihan pernapasan secara khusus. Memang dianjurkan kepada para anggotanya untuk selalu menyempatkan diri berlatih fisik dan teknik setiap hari selama 1 sampai 2 jam. Karena menurutnya untuk membentuk fisik menjadi kuat, memerlukan latihan yang keras, disiplin yang tinggi dan dilakukan terus-menerus, sehingga diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kekuatan dan percaya diri menjadi meningkat. Tarung Derajat memadukan lima unsur fungsi gerakan beladiri, seperti: memukul, menendang, menangkis, membanting dan mengelak.

Kegiatan yang ada di dalam UKT(Ujian Kenaikan Tingkat) Tarung Drajat adalah sebagai berikut. Pertama2 para peserta UKT disuruh lari sebagai pemanasan, setelah itu baru diuji materi-materi yang sudah mereka pelajari. Keunikan yang lain dari bela diri ini adalah dalam hal kostum/Seragam yang dikenakan.

Ada perbedaan kostum di setiap tingkatannya.

  1. Pada sabuk PUTIH – HIJAU strip 2 (Kurata I&III) mereka memakai baju lengan panjang.
  2. Pada sabuk BIRU – HITAM (Kurata IV ke atas) mereka mempunyai 2 pilihan yaitu baju lengan pendek atau baju lengan tanggung.

Ketika seseorang sudah memegang predikat Kurata IV, maka sebenarnya dia dianjurkan mengenakan baju lengan pendek. Karena dia sudah memiliki ilmu yang banyak, demikian pula pengalaman yang sudah seharusnya diaplikasikan dalam sebuah kejuaraan Tarung Derajat. Dengan demikian, mereka wajib dan siap mengikuti tarung (fighting) di setiap saat. Oleh karena itu, mereka pun disebut “PETARUNG”.

Sedangkan yang mengenakan baju lengan tanggung, mereka tidak mempunyai kewajiban seperti halnya para PETARUNG. Namun demikian, mereka harus wajib mengetahui teknik-teknik yang ada. 

Kurata terdiri dari tujuh tingkatan Kurata I s/d Kurata VII, yang terdiri dari PUTIH > HIJAU > HIJAU strip 2 > BIRU > BIRU strip 2 > MERAH >MERAH strip 2 > HITAM. Tingkat lanjutan Kurata adalah tingkat “ZAT” yang ditandai memakai sabuk hitam.

Di samping penatan teknik beladiri yang dipelajari secara khusus, Tarung Derajat kemudian juga dikemas melalui teknik bertarung yang diperlombakan atau yang mengarah kepada olahraga prestasi yang memakai peraturan dan ketentuan yang harus diikuti oleh semua atlet/petarung. Dalam Tarung Derajat juga dikenal rangkaian gerak (Ranger) dan beladiri praktis.

Selesai